Rekan sepelayanan,
Awal tahun 2012, STT Jaffray telah meluncurkan situs baru resmi dengan alamat www.sttjaffray.ac.id
Dengan demikian maka blog ini rencana akan ditutup 3 bulan setelah situs berjalan dengan baik.
Segala informasi dan feedback harap diarahkan ke situs yang baru.
Tuhan memberkati
Berita Kampus Sekolah Tinggi Theologia Jaffray Untuk Sahabat, Gereja, Alumni, dan Civitas Akademika
Wednesday, January 25, 2012
Tuesday, January 3, 2012
PROGRAM DOKTOR STT JAFFRAY
STT Jaffray mendapatkan izin penyelenggaraan untuk program S3 Teologi dengan konsentrasi Teologi Praktika (D.Th) oleh Ditjen Bimas Kristen Kemenag RI. Dengan demikian maka STTJ akan resmi membuka pendaftaran mahasiswa program Doktoral Januari 2012 ini. Pendaftaran terbuka untuk mereka yang telah menyelesaikan program M.Th.(yang diakui oleh pemerintah atau ijazah luar negeri dari lembaga terakreditasi). Formulir dapat dimintakan pada Direktur Pascasarjana STT Jaffray (pascasarjana.sttj@ymail.com) atau hubungi Beatrix Tumbol di 0411-3619757.
Thursday, December 15, 2011
Sunday, December 11, 2011
Memilih Sekolah Teologi yang Baik
Sama seperti memilih perguruan tinggi pada umumnya, maka kita pun diminta hati-hati memilih sekolah teologi. Mengapa? Ini dikarenakan sekolah teologi yang berdiri di Indonesia makin menjamur. Menurut catatan Kemenag ada 300-an lebih sekolah teologi di Indonesia dan ada sebagian yang belum terdaftar dan memiliki izin penyelenggaraan. Seharusnya pendidikan teologi dijalankan dengan jujur karena berbicara atas nama Tuhan, tetapi ada banyak sekolah teologi dibuat asal-asalan, bahkan dibuat hanya untuk mendapat keuntungan dengan menjual ijazah kesarjanaan.
Bila demikian, bagaimana memilih sekolah teologi yang baik? Jika dulu kita hanya mengandalkan sekolah sinode, maka kini kita harus lebih hati-hati dan jeli. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah teologi. Tips ini hanya dasarnya saja dalam memilih, tentu sekolah teologi harus memiliki system mutu yang baku. Namun setidaknya, ini hal dasar dan prinsip awal dalam memilih sekolah teologi:
1. Status sekolah yang jelas
Sekolah yang baik memiliki status pendirian yang jelas baik dari sinode gereja atau yayasan. Lalu kemudian memiliki status izin penyelenggaraan dari pemerintah baik dari Kopertis atau Kemenag. Dan yang baik bila sekolah itu sudah diakreditasi BAN (Badan Akreditasi nasional). Ini penting karena pemerintah di tahun 2012 berencana menertibkan semua perguruan tinggi liar dan akan menerapkan sanksi bagi yang mengeluarkan dan memberikan gelar tanpa izin. Yang lebih penting, status itu sebenarnya untuk memastikan bahwa sekolah ini memang layak mendidik hamba-hamba Tuhan dan masyarakat gereja tidak dirugikan.
2. Jangan cari sekolah instan
Untuk jadi sarjana teologi S1 minimal dibutuhkam 4.5-5 tahun. Dan S2 minimal 2-4 tahun. Ini merupakan standar pendidikan tinggi umumnya, dan sekolah teologi lebih lama karena harus praktek minimal 6 bulan di gereja. Namun sangat disayangkan, banyak sekolah teologi memberikan gelar sarjana cukup sekolah hanya 6 bulan sampai 1 tahun untuk S1 dan 3 bulan untuk S2. Kurikulum tidak jelas, mengajar juga hanya asal-asalan dan formalitas. Jadi ada sekolah teologi hanya jualan ijazah. Sekolah seperti ini tidak layak dapat izin dan Kemenag dalam hal ini Ditjen Bimas Kristen harus memberikan sanksi dan mengadakan pengawasan yang benar-benar melekat dan tidak asal-asal mengeluarkan izin.
3. Dosen yang mengajar memenuhi persyaratan
Ada beberapa sekolah teologi membuat brosur dengan begitu banyak nama dosen dan gelar-gelarnya yang wah… luar biasa. Tapi kenyataan di lapangan membuktikan bahwa nama itu hanya pajangan dan hanya dosen tamu saja. Padahal sebuah prodi (program studi) minimal harus memiliki 6 dosen tetap. Tidak bisa sekolah teologi panggil dosen tamu saja dan tidak ada dosen tetap yang memadai. Saya pernah tahu ada sekolah teologi hanya 3 dosen tetapnya (si Ketua, istrinya dan satu stafnya). Sisanya semua dosen tamu. Sungguh tidak layak sekolah teologi berdiri dengan dosen asal-asalan. Padahal seorang dosen harus memiliki kesarjanaan yang mumpuni, punya pengalaman pelayanan, lalu ketika masuk ke dunia pendidikan haru mengikuti berbagai keterampilan mengajar seperti PEKERTI, AA, dan seterusnya. Bahkan diharapkan setiap dosen memiliki kepangkatan akademik dan sertifikasi dosen. Tujuannya agar seorang dosen menyadari fungsinya ada tiga yaitu mengajar, meneliti (research), dan melakukan pengabdian kepada masyarakat dan gereja (Tri Darma Perguruan Tinggi).
4. Ada lokasi sekolah dan fasilitas memadai
Sekolah teologi harus punya fasilitas pendidikan yang memadai yaitu kelas-kelas, perpustakaan dan berbagai sarana lainnya. Sayang ada sekolah teologi yang lokasinya tidak jelas, pakai rumah ketua yayasan, kontrak ruko kecil yang sangat tidak layak. Padahal paraturan pemerintah mensyaratkan adanya kepemilikan tempat sarana dan prasarana, atau jika menyewa minimal kontrak 5 tahun dan bisa dilanjutkan kemudian. Gereja dan orang tua seharusnya tidak mengutus anaknya ke sekolah teologi yang tidak jelas lokasinya dan minim sarana belajarnya.
5. Ada pembinaan rohani
Sekolah teologi berbeda dengan perguruan tinggi lainnya, di mana pembentukan mahasiswa tidak hanya soal intelektual saja. Harus ada pembinaan rohani seperti ibadah kapel, ibadah doa, berbagai seminar dan lokakarya, ada “mission trip” untuk melatih melayani, dan yang paling pentinf adanya disiplin yang baik. Orang tua dan gereja dalam memilih sekolah teologi harus mencari tahu apakah ada disiplin dan pembinaan rohani bagi anaknya. Jangan hanya berfokus kepada pendidikan intelektual saja tetapi pembinaan secara menyeluruh.
Jadi, panggilan seseorang menjadi hamba Tuhan harus dibarengi dengan kewaspadaan dalam memilih sekolah teologi, terutama yang dibuat asal-asalan. Jangan terlena dengan berbagai promosi yang menggiurkan karena sarjana teologi harus benar-benar ditempa menjadi serupa dengan Kristus dan bukan hanya kejar ijazah! Kiranya pemerintah, dalam hal ini Ditjen Bimas Kristen sudah waktunya bergerak untuk mengawasi dan menertibkan sekolah teologi asal-asalan. Gereja, dalam hal ini sinode gereja jangan berdiam diri, namun mengevaluasi kinerja sekolah teologi yang diasuhnya dan mengawasi sekolah teologi yang diterima sebagai pengerja di gerejanya. Gereja tidak bias lagi diam dan kompromi, bahkan harus bertanggung jawab atas kerusakan pemimpin gereja yang terbentuk asal-asalan. Jangan sampai nama Tuhan dan gereja dipermalukan.
Bila demikian, bagaimana memilih sekolah teologi yang baik? Jika dulu kita hanya mengandalkan sekolah sinode, maka kini kita harus lebih hati-hati dan jeli. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih sekolah teologi. Tips ini hanya dasarnya saja dalam memilih, tentu sekolah teologi harus memiliki system mutu yang baku. Namun setidaknya, ini hal dasar dan prinsip awal dalam memilih sekolah teologi:
1. Status sekolah yang jelas
Sekolah yang baik memiliki status pendirian yang jelas baik dari sinode gereja atau yayasan. Lalu kemudian memiliki status izin penyelenggaraan dari pemerintah baik dari Kopertis atau Kemenag. Dan yang baik bila sekolah itu sudah diakreditasi BAN (Badan Akreditasi nasional). Ini penting karena pemerintah di tahun 2012 berencana menertibkan semua perguruan tinggi liar dan akan menerapkan sanksi bagi yang mengeluarkan dan memberikan gelar tanpa izin. Yang lebih penting, status itu sebenarnya untuk memastikan bahwa sekolah ini memang layak mendidik hamba-hamba Tuhan dan masyarakat gereja tidak dirugikan.
2. Jangan cari sekolah instan
Untuk jadi sarjana teologi S1 minimal dibutuhkam 4.5-5 tahun. Dan S2 minimal 2-4 tahun. Ini merupakan standar pendidikan tinggi umumnya, dan sekolah teologi lebih lama karena harus praktek minimal 6 bulan di gereja. Namun sangat disayangkan, banyak sekolah teologi memberikan gelar sarjana cukup sekolah hanya 6 bulan sampai 1 tahun untuk S1 dan 3 bulan untuk S2. Kurikulum tidak jelas, mengajar juga hanya asal-asalan dan formalitas. Jadi ada sekolah teologi hanya jualan ijazah. Sekolah seperti ini tidak layak dapat izin dan Kemenag dalam hal ini Ditjen Bimas Kristen harus memberikan sanksi dan mengadakan pengawasan yang benar-benar melekat dan tidak asal-asal mengeluarkan izin.
3. Dosen yang mengajar memenuhi persyaratan
Ada beberapa sekolah teologi membuat brosur dengan begitu banyak nama dosen dan gelar-gelarnya yang wah… luar biasa. Tapi kenyataan di lapangan membuktikan bahwa nama itu hanya pajangan dan hanya dosen tamu saja. Padahal sebuah prodi (program studi) minimal harus memiliki 6 dosen tetap. Tidak bisa sekolah teologi panggil dosen tamu saja dan tidak ada dosen tetap yang memadai. Saya pernah tahu ada sekolah teologi hanya 3 dosen tetapnya (si Ketua, istrinya dan satu stafnya). Sisanya semua dosen tamu. Sungguh tidak layak sekolah teologi berdiri dengan dosen asal-asalan. Padahal seorang dosen harus memiliki kesarjanaan yang mumpuni, punya pengalaman pelayanan, lalu ketika masuk ke dunia pendidikan haru mengikuti berbagai keterampilan mengajar seperti PEKERTI, AA, dan seterusnya. Bahkan diharapkan setiap dosen memiliki kepangkatan akademik dan sertifikasi dosen. Tujuannya agar seorang dosen menyadari fungsinya ada tiga yaitu mengajar, meneliti (research), dan melakukan pengabdian kepada masyarakat dan gereja (Tri Darma Perguruan Tinggi).
4. Ada lokasi sekolah dan fasilitas memadai
Sekolah teologi harus punya fasilitas pendidikan yang memadai yaitu kelas-kelas, perpustakaan dan berbagai sarana lainnya. Sayang ada sekolah teologi yang lokasinya tidak jelas, pakai rumah ketua yayasan, kontrak ruko kecil yang sangat tidak layak. Padahal paraturan pemerintah mensyaratkan adanya kepemilikan tempat sarana dan prasarana, atau jika menyewa minimal kontrak 5 tahun dan bisa dilanjutkan kemudian. Gereja dan orang tua seharusnya tidak mengutus anaknya ke sekolah teologi yang tidak jelas lokasinya dan minim sarana belajarnya.
5. Ada pembinaan rohani
Sekolah teologi berbeda dengan perguruan tinggi lainnya, di mana pembentukan mahasiswa tidak hanya soal intelektual saja. Harus ada pembinaan rohani seperti ibadah kapel, ibadah doa, berbagai seminar dan lokakarya, ada “mission trip” untuk melatih melayani, dan yang paling pentinf adanya disiplin yang baik. Orang tua dan gereja dalam memilih sekolah teologi harus mencari tahu apakah ada disiplin dan pembinaan rohani bagi anaknya. Jangan hanya berfokus kepada pendidikan intelektual saja tetapi pembinaan secara menyeluruh.
Jadi, panggilan seseorang menjadi hamba Tuhan harus dibarengi dengan kewaspadaan dalam memilih sekolah teologi, terutama yang dibuat asal-asalan. Jangan terlena dengan berbagai promosi yang menggiurkan karena sarjana teologi harus benar-benar ditempa menjadi serupa dengan Kristus dan bukan hanya kejar ijazah! Kiranya pemerintah, dalam hal ini Ditjen Bimas Kristen sudah waktunya bergerak untuk mengawasi dan menertibkan sekolah teologi asal-asalan. Gereja, dalam hal ini sinode gereja jangan berdiam diri, namun mengevaluasi kinerja sekolah teologi yang diasuhnya dan mengawasi sekolah teologi yang diterima sebagai pengerja di gerejanya. Gereja tidak bias lagi diam dan kompromi, bahkan harus bertanggung jawab atas kerusakan pemimpin gereja yang terbentuk asal-asalan. Jangan sampai nama Tuhan dan gereja dipermalukan.
Thursday, December 1, 2011
QUO VADIS PASTI? CATATAN KRITIS ATAS KONGRES PASTI KE-8 2011
Oleh Daniel Ronda
Baru saja selesai perhelatan “besar” PASTI (Persekutuan Antar Sekolah Theologia Injili di Indonesia) yaitu kongres PASTI ke-8 yang berlangsung tanggl 28-30 November 2011 di Graha Bethel Jakarta. Perhelatan ini dirangkaikan dengan Simposium Teologi dengan tema menarik Multiplikasi dalam Perspektif Teologi Injili. Dalam Kongres ini agenda besar utama adalah pemilihan kepengurusan yang baru dan juga penyusunan program kerja 2011-2015. Dalam kongres ini terpilih kembali Dr. Hendrik J. Ruru sebagai Ketua Umum dan Pdt. Nasokhili Giawa sebagai Sekum. Tentunya kita mengucapkan selamat untuk kepengurusan yang baru, dan kiranya dapat benar-benar bekerja sesuai dengan visi dan misi PASTI.
Namun ada beberapa catatan kritis yang perlu diberikan dalam kongres kali ini:
Pertama, sangat minim sekali kehadiran anggota PASTI yang berjumlah 85 sekolah teologi. Dinyatakan bahwa tidak sampai 50% PTT yang hadir. Bahkan yang ironi, sekolah-sekolah senior dan yang tidak diragukan kualitasnya justru tidak hadir atau tidak mengirim utusan. Nama-nama seperti STTII, STT Baptis, I3, STT Reformed Injili, STT Bandung, dan lainnya justru tidak mengutus sama sekali utusannya. Hanya STT Jaffray baik Makassar dan Jakarta yang mengutus utusan. Bahkan saya sendiri sempat kaget, karena ketika bertemu dengan salah satu pemimpin sekolah teologi besar mengatakan bahwa kongres ini ditunda sampai tanggal 5 Desember. Itu juga menyebabkan ada yang tidak hadir. Yang juga disayangkan, tidak adanya wakil pemerintah yang hadir dalam pembukaan, padahal siangnya (28/11) saat hari pembukaan, saya sendiri sempat rapat dengan pejabat di Bimas Kristen Kemenag RI. Yang aneh adalah tidak ada juga pimpinan PGLII (lembaga Injili) yang hadir, di mana seharusnya PASTI menjadi sayap penting dalam perjuangan gereja-gereja Injili di bawah naungan PGLII. Bahkan yang paling ironi, sebagian besar sekolah-sekolah teologi yang hadir hanya mengutus staf mereka (baik puket maupun dosen biasa) untuk acara akbar 4 tahunan ini. Bisa dibayangkan kualitas sebuah kongres bila pucuk pimpinan pengambil keputusan tidak menghadiri kongres. Ini menjadi semacam kongres asal-asalan saja diadakan. Apalagi ada salah satu pengurus inti PASTI periode 2007-2011, jelas-jelas ada di Jakarta namun tidak menghadirinya. Meskipun demikian, pada satu sisi ego sekolah sekolah teologi yang merasa dirinya “hebat” harus diturunkan dengan mau menghadiri acara ini. Seharusnya kita hadir tanpa harus memiliki pretensi diangkat menjadi pejabat di kepengurusan PASTI. Lembaga ini adalah milik kita dan tanggung jawab bersama untuk membesarkannya. Para pemimpin STT harus mau bersama bersekutu dan jangan sibuk dengan urusan sendiri.
Kedua, terpilihnya Dr. Hendrik J. Ruru kembali menyisakan banyak pertanyaan dan keraguan apakah PASTI akan bisa jalan lebih baik atau jalan di tempat atau tidak tahu akan dibawa ke mana? Beliau adalah orang baik, kaum profesional, dan seorang yang memegang jabatan penting di perusahaan multinasional. Apalagi saat ini beliau lebih banyak tinggal di luar negeri dan mengajar hanya bersifat “block teaching”. Tentu kita tidak meragukan kapasitas profesi beliau. Tapi bukankah lebih baik kalau Dr. Arnold Tindas (dari STT Harvest) yang menjadi Ketua Umum dan bukan menjadi Wakil Ketua. Dapatkah seorang yang bergerak di bidang non pendidikan teologi menahkodai sebuah lembaga pendidikan teologi Injili yang pernah sangat diperhitungkan di Asia? Mengapa beliau diminta terus naik, padahal secara tertulis beliau sudah menyatakan tidak bersedia dan akhirnya beliau meralat atas desakan peserta? Inilah kesalahan besar dalam strategi kepemimpinan PASTI. Apalagi periode 2007-2011, kepengurusan PASTI hampir tidak melakukan apa-apa yang signifikan. Hal itu diakui oleh beberapa pengurus yang lalu di mana mereka mengaku jarang sekali rapat kecuali ketemu waktu simposium.
Ketiga, materi simposium teologi pun dibuat asal-asalan di mana pembicara sendiri tidak memiliki keahlian di bidangnya. Tema multiplikasi menjadi suatu hal yang tidak lebih dari kajian minim sumber terbaru, minim pemikiran original dan hampir miskin sumbangan ilmu, karena ada pembicara tidak memiliki keahlian di bidangnya sesuai tema. Jadi acara simposium tidak lebih dari ajang “menggurui” dan peserta pun malas berinteraksi dalam sesi tanya jawab. Ke depannya, diharapkan bahwa simposium harus mengundang orang sesuai keahlian dan jika tidak ada ahli maka bisa diadakan dialog di mana ada saling “curhat” tentang pergumulan-pergumulan sekolah teologi saat ini.
Keempat, PASTI tidak melibatkan mahasiswa dalam acara ini. Padahal sepatutnya diundang mahasiswa-mahasiswa untuk dapat belajar bagaimana berorganisasi dan bersekutu bersama. Perhatian terhadap teolog muda tidak diberikan peran semestinya dalam pertemuan PASTI ini.
Kelima, tidak adanya pernyataan-peryataan yang bersifat kritis tentang berbagai hal dalam penyelenggaraan PTT (Perguruan Tinggi Teologi) seperti: 1) maraknya pendidikan teologi yang dijalankan asal-asalan; 2) tidak adanya kritik dan pengingatan kepada pemerintah (dalam hal ini Kemenag RI Bimas Kristen) agar tidak mengeluarkan izin penyelenggaraan sekolah secara mudah dan sembarangan hanya karena mampu membayar; 3) Disinyalir bahwa mendapat gelar sarjana sangat mudah, bahkan ada sarjana yang bisa didapat dalam tempo 3 bulan sampai 1 tahun. Ini tidak beda dengan kursus-kursus. Kok bisa disejajarkan dengan S1? Praktik koruptif sekolah teologi dan bisnis terselubung seperti ini perlu diingatkan agar PTT tidak sembarangan dalam memberikan gelar dan diberikan hanya dengan membayar. Penerimaan keanggotaan seharusnya diseleksi dengan ketat dan bertujuan membina. Bagaimana disebut sekolah Injili dengan semangat kekudusan, pekabaran Injil dan Alkitab sebagai firman Allah, namun dalam praktik penyelenggaraan pendidikan teologi memakai praktik koruptif dalam pelaksanaannya?
Lebih dari itu, sudah lama PASTI disindir sebagai ajang “pelegalan” dan perlindungan sekolah-sekolah teologi abal-abal (tidak jelas). PASTI seharusnya tidak menerima dengan sembarangan PTT menjadi anggota, karena sulit rasanya membina PTT bila standar minimal perguruan tinggi tidak terpenuhi seperti ketersediaan gedung, dosen dan perangkat administrasi pendidikan dan akademik. Bila ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin PASTI akan ditinggalkan anggotanya yang merasa tidak nyaman karena PASTI dipakai alat kepentingan dan bukan persekutuan yang memajukan pendidikan teologi Injili di Indonesia.
Keenam, dalam membangun jejaring nasional dan internasional, PASTI masih sangat lemah. Minat mendaftar di ATA (Asia Theological Association) pun sangat kurang, sehingga kita tidak memiliki informasi dan jejaring yang kuat. Malahan masing-masing lembaga pendidikan teologi yang membangun jejaring sendiri. Sebagai contoh, tidak adanya “follow up” pembicaraan soal konferensi Injili sedunia terbesar yaitu Lausanne Conference. Bisa dibayangkan Lausanne Conference III yang diselenggarakan di Cape Town Afrika setahun yang lalu tidak ada dampaknya dalam konteks PASTI karena hampir tidak ada yang mengikutinya. Bahkan isu-isu Injili tahun 80-an masih dibahas. Di sini jelas PASTI masih kelihatan “jadul” dalam menghadapi era baru kaum Injili.
Dari berbagai catatan ini, kiranya pengurus PASTI dapat memicu diri untuk berbuat sesuatu untuk periode 2011-2015. Sayang sekali bila kepengurusan baru ini hanya berupa “display” nama (alias pameran nama) tanpa ada aksi dan kerja nyata. Saya secara pribadi khawatir bahwa PASTI akan tidak dapat berbuat apa-apa dan makin dijauhkan oleh sekolah-sekolah anggotanya. Quo Vadis PASTI? Pertanyaan ini seharusnya menjadi tantangan bagi pengurus baru untuk menetapkan arah perjuangan kaum Injili lewat pendidikan teologi dan menjadikan wadah PASTI bergengsi dan dihargai. Jangan sampai jadi tunggangan kepentingan sesaat. Semoga terwujud!
Baru saja selesai perhelatan “besar” PASTI (Persekutuan Antar Sekolah Theologia Injili di Indonesia) yaitu kongres PASTI ke-8 yang berlangsung tanggl 28-30 November 2011 di Graha Bethel Jakarta. Perhelatan ini dirangkaikan dengan Simposium Teologi dengan tema menarik Multiplikasi dalam Perspektif Teologi Injili. Dalam Kongres ini agenda besar utama adalah pemilihan kepengurusan yang baru dan juga penyusunan program kerja 2011-2015. Dalam kongres ini terpilih kembali Dr. Hendrik J. Ruru sebagai Ketua Umum dan Pdt. Nasokhili Giawa sebagai Sekum. Tentunya kita mengucapkan selamat untuk kepengurusan yang baru, dan kiranya dapat benar-benar bekerja sesuai dengan visi dan misi PASTI.
Namun ada beberapa catatan kritis yang perlu diberikan dalam kongres kali ini:
Pertama, sangat minim sekali kehadiran anggota PASTI yang berjumlah 85 sekolah teologi. Dinyatakan bahwa tidak sampai 50% PTT yang hadir. Bahkan yang ironi, sekolah-sekolah senior dan yang tidak diragukan kualitasnya justru tidak hadir atau tidak mengirim utusan. Nama-nama seperti STTII, STT Baptis, I3, STT Reformed Injili, STT Bandung, dan lainnya justru tidak mengutus sama sekali utusannya. Hanya STT Jaffray baik Makassar dan Jakarta yang mengutus utusan. Bahkan saya sendiri sempat kaget, karena ketika bertemu dengan salah satu pemimpin sekolah teologi besar mengatakan bahwa kongres ini ditunda sampai tanggal 5 Desember. Itu juga menyebabkan ada yang tidak hadir. Yang juga disayangkan, tidak adanya wakil pemerintah yang hadir dalam pembukaan, padahal siangnya (28/11) saat hari pembukaan, saya sendiri sempat rapat dengan pejabat di Bimas Kristen Kemenag RI. Yang aneh adalah tidak ada juga pimpinan PGLII (lembaga Injili) yang hadir, di mana seharusnya PASTI menjadi sayap penting dalam perjuangan gereja-gereja Injili di bawah naungan PGLII. Bahkan yang paling ironi, sebagian besar sekolah-sekolah teologi yang hadir hanya mengutus staf mereka (baik puket maupun dosen biasa) untuk acara akbar 4 tahunan ini. Bisa dibayangkan kualitas sebuah kongres bila pucuk pimpinan pengambil keputusan tidak menghadiri kongres. Ini menjadi semacam kongres asal-asalan saja diadakan. Apalagi ada salah satu pengurus inti PASTI periode 2007-2011, jelas-jelas ada di Jakarta namun tidak menghadirinya. Meskipun demikian, pada satu sisi ego sekolah sekolah teologi yang merasa dirinya “hebat” harus diturunkan dengan mau menghadiri acara ini. Seharusnya kita hadir tanpa harus memiliki pretensi diangkat menjadi pejabat di kepengurusan PASTI. Lembaga ini adalah milik kita dan tanggung jawab bersama untuk membesarkannya. Para pemimpin STT harus mau bersama bersekutu dan jangan sibuk dengan urusan sendiri.
Kedua, terpilihnya Dr. Hendrik J. Ruru kembali menyisakan banyak pertanyaan dan keraguan apakah PASTI akan bisa jalan lebih baik atau jalan di tempat atau tidak tahu akan dibawa ke mana? Beliau adalah orang baik, kaum profesional, dan seorang yang memegang jabatan penting di perusahaan multinasional. Apalagi saat ini beliau lebih banyak tinggal di luar negeri dan mengajar hanya bersifat “block teaching”. Tentu kita tidak meragukan kapasitas profesi beliau. Tapi bukankah lebih baik kalau Dr. Arnold Tindas (dari STT Harvest) yang menjadi Ketua Umum dan bukan menjadi Wakil Ketua. Dapatkah seorang yang bergerak di bidang non pendidikan teologi menahkodai sebuah lembaga pendidikan teologi Injili yang pernah sangat diperhitungkan di Asia? Mengapa beliau diminta terus naik, padahal secara tertulis beliau sudah menyatakan tidak bersedia dan akhirnya beliau meralat atas desakan peserta? Inilah kesalahan besar dalam strategi kepemimpinan PASTI. Apalagi periode 2007-2011, kepengurusan PASTI hampir tidak melakukan apa-apa yang signifikan. Hal itu diakui oleh beberapa pengurus yang lalu di mana mereka mengaku jarang sekali rapat kecuali ketemu waktu simposium.
Ketiga, materi simposium teologi pun dibuat asal-asalan di mana pembicara sendiri tidak memiliki keahlian di bidangnya. Tema multiplikasi menjadi suatu hal yang tidak lebih dari kajian minim sumber terbaru, minim pemikiran original dan hampir miskin sumbangan ilmu, karena ada pembicara tidak memiliki keahlian di bidangnya sesuai tema. Jadi acara simposium tidak lebih dari ajang “menggurui” dan peserta pun malas berinteraksi dalam sesi tanya jawab. Ke depannya, diharapkan bahwa simposium harus mengundang orang sesuai keahlian dan jika tidak ada ahli maka bisa diadakan dialog di mana ada saling “curhat” tentang pergumulan-pergumulan sekolah teologi saat ini.
Keempat, PASTI tidak melibatkan mahasiswa dalam acara ini. Padahal sepatutnya diundang mahasiswa-mahasiswa untuk dapat belajar bagaimana berorganisasi dan bersekutu bersama. Perhatian terhadap teolog muda tidak diberikan peran semestinya dalam pertemuan PASTI ini.
Kelima, tidak adanya pernyataan-peryataan yang bersifat kritis tentang berbagai hal dalam penyelenggaraan PTT (Perguruan Tinggi Teologi) seperti: 1) maraknya pendidikan teologi yang dijalankan asal-asalan; 2) tidak adanya kritik dan pengingatan kepada pemerintah (dalam hal ini Kemenag RI Bimas Kristen) agar tidak mengeluarkan izin penyelenggaraan sekolah secara mudah dan sembarangan hanya karena mampu membayar; 3) Disinyalir bahwa mendapat gelar sarjana sangat mudah, bahkan ada sarjana yang bisa didapat dalam tempo 3 bulan sampai 1 tahun. Ini tidak beda dengan kursus-kursus. Kok bisa disejajarkan dengan S1? Praktik koruptif sekolah teologi dan bisnis terselubung seperti ini perlu diingatkan agar PTT tidak sembarangan dalam memberikan gelar dan diberikan hanya dengan membayar. Penerimaan keanggotaan seharusnya diseleksi dengan ketat dan bertujuan membina. Bagaimana disebut sekolah Injili dengan semangat kekudusan, pekabaran Injil dan Alkitab sebagai firman Allah, namun dalam praktik penyelenggaraan pendidikan teologi memakai praktik koruptif dalam pelaksanaannya?
Lebih dari itu, sudah lama PASTI disindir sebagai ajang “pelegalan” dan perlindungan sekolah-sekolah teologi abal-abal (tidak jelas). PASTI seharusnya tidak menerima dengan sembarangan PTT menjadi anggota, karena sulit rasanya membina PTT bila standar minimal perguruan tinggi tidak terpenuhi seperti ketersediaan gedung, dosen dan perangkat administrasi pendidikan dan akademik. Bila ini terus dibiarkan, maka bukan tidak mungkin PASTI akan ditinggalkan anggotanya yang merasa tidak nyaman karena PASTI dipakai alat kepentingan dan bukan persekutuan yang memajukan pendidikan teologi Injili di Indonesia.
Keenam, dalam membangun jejaring nasional dan internasional, PASTI masih sangat lemah. Minat mendaftar di ATA (Asia Theological Association) pun sangat kurang, sehingga kita tidak memiliki informasi dan jejaring yang kuat. Malahan masing-masing lembaga pendidikan teologi yang membangun jejaring sendiri. Sebagai contoh, tidak adanya “follow up” pembicaraan soal konferensi Injili sedunia terbesar yaitu Lausanne Conference. Bisa dibayangkan Lausanne Conference III yang diselenggarakan di Cape Town Afrika setahun yang lalu tidak ada dampaknya dalam konteks PASTI karena hampir tidak ada yang mengikutinya. Bahkan isu-isu Injili tahun 80-an masih dibahas. Di sini jelas PASTI masih kelihatan “jadul” dalam menghadapi era baru kaum Injili.
Dari berbagai catatan ini, kiranya pengurus PASTI dapat memicu diri untuk berbuat sesuatu untuk periode 2011-2015. Sayang sekali bila kepengurusan baru ini hanya berupa “display” nama (alias pameran nama) tanpa ada aksi dan kerja nyata. Saya secara pribadi khawatir bahwa PASTI akan tidak dapat berbuat apa-apa dan makin dijauhkan oleh sekolah-sekolah anggotanya. Quo Vadis PASTI? Pertanyaan ini seharusnya menjadi tantangan bagi pengurus baru untuk menetapkan arah perjuangan kaum Injili lewat pendidikan teologi dan menjadikan wadah PASTI bergengsi dan dihargai. Jangan sampai jadi tunggangan kepentingan sesaat. Semoga terwujud!
Monday, November 21, 2011
Ancaman Terhadap Makna Pelayanan
Pada masa kini kata “pelayanan” sudah menjadi istilah populer, tetapi banyak yang tidak memahami arti pelayanan yang sebenarnya. Ada hal positif ketika jemaat mulai terlibat aktif dalam pelayanan di mana tadinya hanya rohaniwan (kaum klergi) yang melakukannya. Namun muncul keprihatinan karena pelayanan kadangkala sudah dicampurbaurkan dengan bisnis, cinta akan uang telah masuk ke gereja, sinkretisme dengan budaya populer (pop culture) yang berujung kepada materialisme dan pola hidup konsumeristik. Pengaruh budaya populer saat ini menghasilkan begitu banyak godaan dalam pelayanan seperti haus kekuasaan, mengincar jabatan sebagai identitas diri, berbagai penyimpangan dan dosa seks dan gaya hidup hedonistik. Tidak sedikit pernikahan dan keluarga Kristen berantakan karena pengaruh ini dan yang menyedihkan adanya pembiaran terhadap berbagai ancaman ini.
Untuk itu kami merasa perlu menyusun suatu makna pelayanan yang sesungguhnya yang Tuhan kehendaki. Namun terlebih dahulu kami perlu mengangkat terlebih dahulu isu-isu soal ancaman pelayanan yang muncul saat ini dan bagaimana harus menyikapinya:
1. Adanya pengajaran teologi kemakmuran yang berfokus kepada kekayaan materi, di mana beranggapan bahwa orang percaya pasti akan menjadi kaya secara materi. Pengajaran ini menarik begitu banyak orang yang beranggapan bahwa berkat materi merupakan tujuan dari kekristenan. Harus disadari bahwa pengajaran ini menyesatkan karena tidak bisa membedakan kemakmuran (prosperity) secara menyeluruh dan hanya berfokus kepada kemakmuran materi.
2. Gereja telah disinyalir menjadi ajang bisnis, di mana ada fihak yang mendirikan gereja dengan tujuan mendapatkan keuntungan materi. Cara yang teridentifikasi seperti membuat gereja baru dengan menyiapkan berbagai fasilitas lalu mengundang pemain musik dan pengkotbah tamu yang diberikan imbalan materi. Sedangkan dirinya tidak perlu berkotbah ataupun melayani, tapi cukup menjadi “manajer” bagi gereja itu. Uang telah menjadi tujuan pelayanan, di mana pelayanan telah menjadi profesi. Jiwa-jiwa dilihat dari potensi materinya belaka.
3. Juga adanya praktik korupsi atau penyalahgunaan hal keuangan dalam gereja, di mana tidak bisa membuat akuntablitas, menjalankan proposal dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan berbagai tindakan korup lainnya.
4. Ada hamba Tuhan mulai meninggalkan pelayanan dan tergoda menjadi politikus dan pekerjaan lain yang dianggap dapat memberikan kesejahteraan materi. Pekerjaan sebagai hamba Tuhan dianggap sebagai karir saja, sehingga panggilan itu berubah ketika ada hal lain yang bisa lebih menjanjikan.
5. Ketika budaya populer sudah memasuki begitu dalam, maka muncul godaan-godaan yag begitu banyak, termasuk soal pecitraan penampilan. Penampilan fisik telah begitu dipuja dan mengambil alih panggilan kepada pelayanan, karena ada yang beranggapan bahwa penampilan fisik adalah penentu bagi orang mau mendengar Injil dan kotbah. Penampilan itu disertai dengan penggunaan gadget, kendaraan, serta pakaian yang mewah dan dijadikan fondasi harga diri seorang hamba Tuhan. Ada yang beranggapan bahwa penampilan yang mewah (luxury) akan menambah wibawa pelayanan karena orang tertarik kepada Injil kalau hamba Tuhannya diberkati (secara materi dan penampilan).
6. Ada lagi godaan yang terbesar yaitu, godaan itu di sekitar area seksualitas, yang meliputi humor-humor kotor, pornografi, perselingkuhan, homoseksualitas dan berbagai penyimpangan seks lainnya. Seringkali hal ini banyak dibicarakan, namun tidak ada upaya dan tindakan jelas tentang bagaimana memelihara kesucian hidup.
Maka dalam suasana ancaman pelayanan yang demikian, perlu diingatkan kembali akan arti pelayanan dan juga bagaimana menghadapi tantangan pelayanan di era yang baru ini:
1. Menegakkan arti pelayanan itu penting bagi setiap mereka yang akan melayani. Melayani artinya melakukan pelayanan seperti Yesus Kristus kepada Bapa di surga dengan perantaraan Roh Kudus untuk gereja dan dunia. Yesus Kristus adalah teladan dan menjadi pusat pelayanan kita.
2. Pelayanan membutuhkan uang, tetapi bukan tujuan dari pelayanan itu sendiri. Jadi, materi merupakan sarana penunjang pelayanan, namun pelayanan tidak bergantung pada materi. Gereja harus mendapatkan keuangan dengan cara yang benar dan Alkitabiah.
3. Gereja harus menolak pengajaran teologi kemakmuran yang berfokus kepada kemakmuran materi (uang) semata, sebaliknya gereja patut mengajarkan kemakmuran yang menyeluruh dan seimbang yang berpusat pada pengajaran Yesus.
4. Penting bagi setiap hamba Tuhan memelihara integritas hidupnya. Integritas dalam pelayanan merupakan kunci kemenangan terhadap godaan-godaan. Maka pengajaran tentang integritas, kesucian hidup, dan penerapan disiplin dalam pelayanan perlu mendapat perhatian khusus bagi pemimpin gereja.
5. Hamba-hamba Tuhan agar terus waspada terhadap berhala-berhala modern yang memasuki cara pandang kita, serta tidak melacurkan panggilan untuk mendapatkan keuntungan materi. Hamba Tuhan bukan karir dan pekerjaan yang dinilai dengan uang dan prestise, tapi panggilan Allah yang mulia.
6. Panggilan pelayanan adalah untuk menjadi berkat bagi sesama dan dunia. Memercayai janji dan penyertaan Tuhan adalah kunci pelayanan yang diberkati (Mat 28:20)
(Didiskusikan dan disusun bersama dalam kelas Falsafah Pelayanan (Theology of Ministry) program Pascasarjana STT Jaffray, semester ganjil tahun 2011. Dosen: Pdt. Dr. Daniel Ronda; Mahasiswa: dr. Simon Tarigan, Yohanes Tulungallo, Jhon Manalu, Ezra Tari, Nonik Yemni, Ronald Sumigar, Johnny Sumarauw, Yofsan Tolanda, Yunus Laukapitang, Hengi Wijaya, Wahyudi Binti Sylvester).
Untuk itu kami merasa perlu menyusun suatu makna pelayanan yang sesungguhnya yang Tuhan kehendaki. Namun terlebih dahulu kami perlu mengangkat terlebih dahulu isu-isu soal ancaman pelayanan yang muncul saat ini dan bagaimana harus menyikapinya:
1. Adanya pengajaran teologi kemakmuran yang berfokus kepada kekayaan materi, di mana beranggapan bahwa orang percaya pasti akan menjadi kaya secara materi. Pengajaran ini menarik begitu banyak orang yang beranggapan bahwa berkat materi merupakan tujuan dari kekristenan. Harus disadari bahwa pengajaran ini menyesatkan karena tidak bisa membedakan kemakmuran (prosperity) secara menyeluruh dan hanya berfokus kepada kemakmuran materi.
2. Gereja telah disinyalir menjadi ajang bisnis, di mana ada fihak yang mendirikan gereja dengan tujuan mendapatkan keuntungan materi. Cara yang teridentifikasi seperti membuat gereja baru dengan menyiapkan berbagai fasilitas lalu mengundang pemain musik dan pengkotbah tamu yang diberikan imbalan materi. Sedangkan dirinya tidak perlu berkotbah ataupun melayani, tapi cukup menjadi “manajer” bagi gereja itu. Uang telah menjadi tujuan pelayanan, di mana pelayanan telah menjadi profesi. Jiwa-jiwa dilihat dari potensi materinya belaka.
3. Juga adanya praktik korupsi atau penyalahgunaan hal keuangan dalam gereja, di mana tidak bisa membuat akuntablitas, menjalankan proposal dana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan berbagai tindakan korup lainnya.
4. Ada hamba Tuhan mulai meninggalkan pelayanan dan tergoda menjadi politikus dan pekerjaan lain yang dianggap dapat memberikan kesejahteraan materi. Pekerjaan sebagai hamba Tuhan dianggap sebagai karir saja, sehingga panggilan itu berubah ketika ada hal lain yang bisa lebih menjanjikan.
5. Ketika budaya populer sudah memasuki begitu dalam, maka muncul godaan-godaan yag begitu banyak, termasuk soal pecitraan penampilan. Penampilan fisik telah begitu dipuja dan mengambil alih panggilan kepada pelayanan, karena ada yang beranggapan bahwa penampilan fisik adalah penentu bagi orang mau mendengar Injil dan kotbah. Penampilan itu disertai dengan penggunaan gadget, kendaraan, serta pakaian yang mewah dan dijadikan fondasi harga diri seorang hamba Tuhan. Ada yang beranggapan bahwa penampilan yang mewah (luxury) akan menambah wibawa pelayanan karena orang tertarik kepada Injil kalau hamba Tuhannya diberkati (secara materi dan penampilan).
6. Ada lagi godaan yang terbesar yaitu, godaan itu di sekitar area seksualitas, yang meliputi humor-humor kotor, pornografi, perselingkuhan, homoseksualitas dan berbagai penyimpangan seks lainnya. Seringkali hal ini banyak dibicarakan, namun tidak ada upaya dan tindakan jelas tentang bagaimana memelihara kesucian hidup.
Maka dalam suasana ancaman pelayanan yang demikian, perlu diingatkan kembali akan arti pelayanan dan juga bagaimana menghadapi tantangan pelayanan di era yang baru ini:
1. Menegakkan arti pelayanan itu penting bagi setiap mereka yang akan melayani. Melayani artinya melakukan pelayanan seperti Yesus Kristus kepada Bapa di surga dengan perantaraan Roh Kudus untuk gereja dan dunia. Yesus Kristus adalah teladan dan menjadi pusat pelayanan kita.
2. Pelayanan membutuhkan uang, tetapi bukan tujuan dari pelayanan itu sendiri. Jadi, materi merupakan sarana penunjang pelayanan, namun pelayanan tidak bergantung pada materi. Gereja harus mendapatkan keuangan dengan cara yang benar dan Alkitabiah.
3. Gereja harus menolak pengajaran teologi kemakmuran yang berfokus kepada kemakmuran materi (uang) semata, sebaliknya gereja patut mengajarkan kemakmuran yang menyeluruh dan seimbang yang berpusat pada pengajaran Yesus.
4. Penting bagi setiap hamba Tuhan memelihara integritas hidupnya. Integritas dalam pelayanan merupakan kunci kemenangan terhadap godaan-godaan. Maka pengajaran tentang integritas, kesucian hidup, dan penerapan disiplin dalam pelayanan perlu mendapat perhatian khusus bagi pemimpin gereja.
5. Hamba-hamba Tuhan agar terus waspada terhadap berhala-berhala modern yang memasuki cara pandang kita, serta tidak melacurkan panggilan untuk mendapatkan keuntungan materi. Hamba Tuhan bukan karir dan pekerjaan yang dinilai dengan uang dan prestise, tapi panggilan Allah yang mulia.
6. Panggilan pelayanan adalah untuk menjadi berkat bagi sesama dan dunia. Memercayai janji dan penyertaan Tuhan adalah kunci pelayanan yang diberkati (Mat 28:20)
(Didiskusikan dan disusun bersama dalam kelas Falsafah Pelayanan (Theology of Ministry) program Pascasarjana STT Jaffray, semester ganjil tahun 2011. Dosen: Pdt. Dr. Daniel Ronda; Mahasiswa: dr. Simon Tarigan, Yohanes Tulungallo, Jhon Manalu, Ezra Tari, Nonik Yemni, Ronald Sumigar, Johnny Sumarauw, Yofsan Tolanda, Yunus Laukapitang, Hengi Wijaya, Wahyudi Binti Sylvester).
Thursday, November 17, 2011
PELANTIKAN DAN PENEGUHAN KEPEMIMPINAN STT JAFFRAY:
Pada tanggal 8 November telah dilantik Ketua STT Jaffray yang baru untuk periode kedua (2011-2016) oleh ketua Umum GKII Pdt. Paul Paksoal, M.Div. dan didampingi Sekretaris Umum Pdt. Sebinus Luther, M.Th. Selanjutnya pada saat yang sama dilantik Badan Pengurus Yayasan Jaffray periode 2011-2016). Pada tanggal 10 November dilantik pula tim unsur pimpinan STT Jaffray oleh Ketua dan Yayasan Pendidikan Jaffray. Adapun susunan pengurus dan kepemimpinan sebagai berikut:
YAYASAN PENDIDIKAN JAFFRAY PERIODE 2011-2016
Penasehat : Drs. Anton Obey
Ketua : A.M. Tjandra, M.Si.
Sekretaris : Dr. Simon Tarigan, Sp.THT, STh.
Bendahara : Ir. Samuel Arnold Saputra
Anggota : 1) Ketua Umum GKII (ex officio)
2) Pdt. Hoki Paulus Santosa, S.Th.
3) Drs. Patampa
4) Ade Widagdo
5) Meily Lunanta, MA
KEPEMIMPINAN STT JAFFRAY PERIODE 2011-2016
Ketua : Pdt. Dr. Daniel Ronda, Th.M,
Puket I Bidang Akademik : Pdt. Dr. Peniel Maiaweng
Puket II Bidang Adm/Keu. : Pdt. Zeth Tuhumury, S.Th.
Puket III Bidang Kemahasiswaan : Pdt. Robi Panggarra, M.Th.
Dir. Pascasarjana : Pdt. Made Astika, Ph.D.
Ketua Program Ekstensi : Pdt. Dr. Jermia Djadi
Ketua Lembaga Penjaminan Mutu : Pdt. Dr. Ivan Weismann, S.Th.
YAYASAN PENDIDIKAN JAFFRAY PERIODE 2011-2016
Penasehat : Drs. Anton Obey
Ketua : A.M. Tjandra, M.Si.
Sekretaris : Dr. Simon Tarigan, Sp.THT, STh.
Bendahara : Ir. Samuel Arnold Saputra
Anggota : 1) Ketua Umum GKII (ex officio)
2) Pdt. Hoki Paulus Santosa, S.Th.
3) Drs. Patampa
4) Ade Widagdo
5) Meily Lunanta, MA
KEPEMIMPINAN STT JAFFRAY PERIODE 2011-2016
Ketua : Pdt. Dr. Daniel Ronda, Th.M,
Puket I Bidang Akademik : Pdt. Dr. Peniel Maiaweng
Puket II Bidang Adm/Keu. : Pdt. Zeth Tuhumury, S.Th.
Puket III Bidang Kemahasiswaan : Pdt. Robi Panggarra, M.Th.
Dir. Pascasarjana : Pdt. Made Astika, Ph.D.
Ketua Program Ekstensi : Pdt. Dr. Jermia Djadi
Ketua Lembaga Penjaminan Mutu : Pdt. Dr. Ivan Weismann, S.Th.
Tuesday, April 5, 2011
Daftar Rincian Biaya Kuliah Mahasiswa Baru Program S1 Tahun Ajaran 2011/2012
Daftar Rincian Biaya Kuliah Mahasiswa Baru Program S1 Tahun Ajaran 2011/2012
1. Biaya Formulir: Teologi, PAK, Musik Rp. 100.000
2. Biaya Tes Masuk & Psikotes: Teologi, PAK, Musik Rp. 750.000
3. Biaya BPP (Biaya Kuliah): Teologi Rp. 1.000.000; PAK Rp. 1.080.000; Musik Rp. 1.200.000
4. Biaya Sumbangan Pembangunan (1x): Teologi, PAK, Musik Rp. 750.000
5. Biaya Kamar Asrama / Semester: Teologi, PAK, Musik Rp. 300.000
6. Biaya Jaket Almamater: Teologi, PAK, Musik Rp. 150.000
Mahasiswa STTJ, mohon sebarkan info ini keteman calon mahasiswa STTJ. Tuhan Yesus Berkati.
1. Biaya Formulir: Teologi, PAK, Musik Rp. 100.000
2. Biaya Tes Masuk & Psikotes: Teologi, PAK, Musik Rp. 750.000
3. Biaya BPP (Biaya Kuliah): Teologi Rp. 1.000.000; PAK Rp. 1.080.000; Musik Rp. 1.200.000
4. Biaya Sumbangan Pembangunan (1x): Teologi, PAK, Musik Rp. 750.000
5. Biaya Kamar Asrama / Semester: Teologi, PAK, Musik Rp. 300.000
6. Biaya Jaket Almamater: Teologi, PAK, Musik Rp. 150.000
Mahasiswa STTJ, mohon sebarkan info ini keteman calon mahasiswa STTJ. Tuhan Yesus Berkati.
Friday, March 25, 2011
PENERIMAAN MAHASISWA BARU STTJ 2011/2012
STT Jaffray menerima kembali mahasiswa baru untuk tahun ajaran 2011/2012. Program Studi yang ditawarkan saat ini antara lain: Program studi. S1 Teologi Konsentrasi Ilmu Teologi (S.Th) dan Konsentrasi Musik Gerejawi, (Akreditasi BAN PT). Program studi. S1 PAK Konsentrasi Pendidikan Agama Kristen (Spd.K) dan Konsentrasi Pelayanan Anak dan Remaja (Akreditasi Kementrian Agama RI).Progran studi S2 Teologi Konsentrasi Magister Teologi (M.Th), Magister Divinitas (M.Div), Master Of Art (MA) Konseling, Magister Teologi (M.Th) Konseling. Program studi S2 PAK Konsentrasi Magister Pendidikan Agama Kristen (Mpd.K), Master Of Art (MA) Pengembangan Anak Holistik. Dan tahun ini STTJ membuka Program S3, Doktor Teologi (D.Th).
Ayo ... daftarkan diri Anda segera, dan ingat perkataan Tuhan Yesus: Lihatlah ladang Tuhan telah menguning dan siap dituai!!
Berikut Kalender Akademik kami, STT Jaffray Makassar:
Semester Ganjil
Penerimaan, Seleksi dan Registrasi .................... Mulai saat ini - Agust. 2011
Tes Penerimaan MABA ............................................... 04-05 Agust 2011
Pengumuman, Ospek, dan Pengarahan MABA ............................ 08-12 Agust 2011
Registrasi Mahasiswa Lama ......................................... 08-10 Agust 2011
Kuliah Mulai Berjalan ................................................ 15 Agust 2011
Daftarkan diri Anda sekarang dan bisa meminta formulir mulai saat ini.
Ayo ... daftarkan diri Anda segera, dan ingat perkataan Tuhan Yesus: Lihatlah ladang Tuhan telah menguning dan siap dituai!!
Berikut Kalender Akademik kami, STT Jaffray Makassar:
Semester Ganjil
Penerimaan, Seleksi dan Registrasi .................... Mulai saat ini - Agust. 2011
Tes Penerimaan MABA ............................................... 04-05 Agust 2011
Pengumuman, Ospek, dan Pengarahan MABA ............................ 08-12 Agust 2011
Registrasi Mahasiswa Lama ......................................... 08-10 Agust 2011
Kuliah Mulai Berjalan ................................................ 15 Agust 2011
Daftarkan diri Anda sekarang dan bisa meminta formulir mulai saat ini.
Wednesday, February 9, 2011
Terimakasih untuk pelayanan Ps Lee Ki Hoon pada Quite Time Seminar. Beliau adalah Pastor senior Onnuri Church Sydney yang bertumbuh pesat lewat rahasia doa. Di kampus STTJ, selasa 8 Februari, Jam 11.00-17.00, dalam acara ini juga ada pembagian buku gratis. Trimakasih juga untuk semua tim yang sudah datang baik orang tua dan anak muda dari gereja onuuri Church Sydney Australia. Tuhan Yesus Memberkati.
Tuesday, February 1, 2011
Suatu kehormatan bagi STT Jaffray, karena pada pembukaan semester genap tahun ajaran 2010/2011, dua hari berturut-turut pelayanan penyegaran rohani di layani oleh Pdt. Lukas Chandra. Kami percaya baik Dosen, Karyawan dan seluruh Mahasiswa yang mengukuti acara tersebut pasti akan dijamah dan diberkati Tuhan. Kepada yang kekasih Pdt. Lukas Chandra, kami segenap Civitas Akademika STT Jaffray mengucapkan terima kasih atas pelayanannya, Tuhan Yesus Memberkati.
Tuesday, January 18, 2011
HADIRILAH KULIAH UMUM...GRATIS
TOPIK : LEADING CHANGE IN CHURCHES (Memimpin Perubahan dalam Gereja)
Pembicara : Dr. Alan McMahan (Ketua Departemen Intercultural Studies Biola University USA) -mantan dosen STT Jaffray
Tempat : Kapel STT Jaffray
Tanggal : 21 Januari 2011
Waktu : Jam 09.00-12.00
Seminar ini cocok bagi hamba-hamba Tuhan, mahasiswa teologi dan aktivitas gereja. Mohon sampaikan dan sebarkan. Terima kasih.
TOPIK : LEADING CHANGE IN CHURCHES (Memimpin Perubahan dalam Gereja)
Pembicara : Dr. Alan McMahan (Ketua Departemen Intercultural Studies Biola University USA) -mantan dosen STT Jaffray
Tempat : Kapel STT Jaffray
Tanggal : 21 Januari 2011
Waktu : Jam 09.00-12.00
Seminar ini cocok bagi hamba-hamba Tuhan, mahasiswa teologi dan aktivitas gereja. Mohon sampaikan dan sebarkan. Terima kasih.
Monday, January 17, 2011
Buku Baru dari Daniel Ronda
Buku baru saya dengan judul "Leadership Wisdom: Antologi Hikmat Kepemimpinan" akan terbit akhir Januari 2011 oleh Penerbit Kalam Hidup Bandung. Nantikan beberapa minggu lagi!
Komentar rekan dan senior tentang buku ini:
"Penulis berhasil mengangkat berbagai masalah aktual dan cara penanganannya berdasarkan prinsip kepemimpinan Kristen. Wajib dibaca agar para pemimpin dapat terus mengedepankan integritasnya.” ( Christono Santoso , Direktur Eksekutif Yayasan Haggai Indonesia)
Komentar rekan dan senior tentang buku ini:
“Tulisan pendeta yang disayangi oleh banyak orang yang mengenalnya ini memberikan baik uraian tentang kerangka teoritis kepemimpinan. Lebih dari itu, penulis juga memaparkan bagaimana pemimpin menerapkan kepemimpinan rohani, kepemimpinan hamba dan kepemimpinan transformatifnya di dalam konteks pelayanan yang sedang berubah.” (Dr. Robby I. Chandra - Ketua Komisi Kependetaan Sinode GKI, Ketua Badan Bina Pendeta GKI SW Jabar, Wakil Ketua Badan Pengurus Young Leaders Indonesia, dan dosen MM Ukrida Jakarta jurusan Manajemen Gereja.)
“Buku “Leadership Wisdom” memperingatkan saya untuk mengatakan bahwa “Kepemimpinan bukan segalanya, dan segalanya bukan kepemimpinan. Kepemimpinan memang membutuhkan segalanya, karena tanpa segalanya, kepemimpinan tidak akan ada artinya. Artinya, dengan mempelajari seperangkat ilmu kepemimpinan, tidak akan berarti tanpa dukungan dari ilmu pengetahuan lainnya. Tetapi pada sisi lain, dapat dikatakan bahwa tanpa kepemimpinan, segala yang lain tidak akan tajam. Karena itu bidang-bidang apa pun membutuhkan ilmu kepemimpinan yang merupakan dinamika bagi ketajaman performansi semua yang lainnya.” Dengan demikian, saya merekomendasikan buku: Leadership Wisdom karya Dr. Daniel Ronda sebagai bagian dari upaya memperkaya ilmu lain yang kiranya memberikan kemanfaatan besar bagi para pemimpin pembelajar untuk memperkaya diri menjadi lebih berkualitas yang kiranya dapat mewujudkan upaya memimpin yang berhasil dalam dunia yang berubah. Selamat!” ( Dr. Yakob Tomatala CEO YT Leadership Foundation, Jakarta
Motivator dan Pakar Pengembangan SDM Kepemimpinan Kristen)
Thursday, January 6, 2011
Segenap Civitas Akademika STT Jaffray mengucapkan "Selamat kepada Pdt Dr. Ivan Th. J. Weismann, S. Th., M. Hum. yang telah menyelesaikan studi dan mendapat gelar Doktor Sosiologi di UNHAS Makassar." Terima kasih juga kepada semua pihak yang telah mendukungnya dalam doa dan dana, Tuhan Yesus memberkati.
Monday, December 13, 2010
Telah terbit buku dengan judul: “Dr. R. A. Jaffray Pelayanan dan Karyanya di China hingga ke Asia Teanggara.” Ditulis oleh salah sorang muridnya bernama Jasen Stephen Linn dan beberapa kawan-kawan rekan kerja yang lain. Sebuah buku sejarah kehidupan seorang tokoh rohani yang diurapi Tuhan bernama Dr. Robert Alexander Jaffray. Sebuah buku yang inspiratif, penuh dengan berkat-berkat Rohani yang akan menolong para hamba-hamba Tuhan, mahasiswa dalam pelayanan.
Dapatkan dan milikilah buku ini dengan harga Rp. 35.000. khusus Mahasiswa teologi akan mendapatkan diskon 10% . Dapat dipesan di toko buku Kalam Hidup dan Lembaga Penelitian dan Penerbitan STT Jaffray.
Dapatkan dan milikilah buku ini dengan harga Rp. 35.000. khusus Mahasiswa teologi akan mendapatkan diskon 10% . Dapat dipesan di toko buku Kalam Hidup dan Lembaga Penelitian dan Penerbitan STT Jaffray.
Tuesday, November 9, 2010
Program Strata 2 Holistic Child Development Program (HCD)
Ungkapan “small is beautiful” mewarnai kelas angkatan pertama untuk program Master of Arts Pengembangan Anak Holistik (PAH) atau MA Holistic Child Development (HCD) di STT Jaffray Makassar. Modul I dimulai pada tgl 27 September dan berakhir pada tgl 20 Oktober 2010. Suasana kelas sangat hidup karena masing-masing anggota kelasnya mendapat kesempatan untuk berinteraksi baik dengan dosen maupun sesama mahasiswa. Diskusi, tanya-jawab, presentasi pribadi maupun kelompok mewarnai suasana kelas tersebut. Bukan hanya pengetahuan yang dapat diserap atau dibagikan bahkan expresi perasaan pun dapat dituangkan dengan bebas namun terkendali.
Angkatan pertama Program MA HCD ini ada enam orang yang datang dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda. Berikut ini profile dari para Mahasiswa tersebut:
- Pdt. Robby Renno Litty, M.Th melayani sebagai Gembala Jemaat di Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Sunter, Jakarta. Meskipun beliau sudah memiliki gelar S2 namun kerinduannya untuk terus diperlengkapi supaya memiliki pelayanan yang berwawasan kepedulian kepada kehidupan anak secara holistic tidak menyurutkan semangatnya untuk kembali belajar dalam program yang khusus ini. Pengalamannya sebagai Gembala Jemaat selama 16 tahun memberikan sumbangsih besar dalam diskusi-diskusi di kelas sehingga diskusi-diskusi tersebut menjadi hidup. Beliau sendiri mengakui bahwa kebanyakan para pemimpin gereja belum terlibat secara mendalam dalam melayani anak-anak bahkan pelayanan terhadap anak cenderung dinomorduakan. Kerinduannya adalah agar semua para pemimpin gereja memiliki persfektif “Hati Allah” terhadap pelayanan anak.
- Pdt. Martina, S.Th. melayani sebagai Assistant Gembala di Gereja Methodist Indonesia (GMI) Jemaat Kisaran, Sumatera Utara dan secara khusus melayani bidang Pelayanan Anak dan Perempuan. Cuti satu tahun yang diberikan Sinode GMI kepadanya tidak disia-siakan. Beliau menggunakannya untuk melengkapi diri lagi dengan mengikuti Program MA HCD di STT Jaffray, Makassar. Dengan sistim Modul yang ditawarkan untuk program tersebut lebih memudahkan baginya untuk mengatur antara keluarga, pelayanan dan kuliah. Walaupun beliau harus meninggalkan suami dan seorang anak perempuan berusia 4 tahun selama 1 bulan untuk mengikuti kuliah. Keinginan luhurnya adalah untuk lebih dilengkapi agar lebih baik lagi dalam melayani anak-anak sebagai asset gereja dan bangsa yang berharga. Saatnya gereja menanam investasi besar dalam diri anak secara utuh (holistic).
- Ev. Heni Susela, MA adalah pelayan Tuhan yang telah belasan tahun melayani anak-anak di Kalimantan Timur. 10 tahun pertama melayani dalam Komisi Anak dan Remaja GKII Daerah Mahakam Utara dan sekarang memasuki usia 5 tahun pelayanannya sebagai Ketua Biro Pelayanan Anak & Remaja GKII Wilayah Kalimantan Timur. Di samping itu pula penginjil single ini melayani di STT Tenggarong sebagai tenaga pengajar dan membantu bidang administrasi sekolah. “New Insight” yang didapat dalam kelas HCD ditambah dengan pengalaman pelayanan kepada anak-anak telah memperkaya dirinya untuk memiliki visi dan misi secara global terhadap pelayanan anak.
- Ev. Mince Awang, S.Th. melayani sebagai Assistant Gembala di salah satu gereja di daerah Apau Kayan, Kalimantan Timur. Kurangnya perhatian gereja terhadap pelayanan anak dan kecenderungan untuk mengabaikannya serta tidak adanya tenaga professional atau specialist di bidang pelayanan anak dalam daerahnya, telah mendorong gadis muda ini untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, karakter dan keterampilan dirinya dalam program Holistic Child Development di STT Jaffray Makassar. Walaupun jarak tempuh yang cukup jauh dan menggunakan berbagai alat transportasi agar dapat sampai di Makassar tidak menyurutkan langkahnya untuk dilengkapi dalam program khusus tersebut. 3 jam perjalanan dari kampungnya menuju lapangan terbang mini di Apau Kayan harus dilaluinya dengan perahu. Pesawat terbang mini yang sering diplesetkan dengan sebutan “Sampai Mati Atau Cacat” ini harus ditumpanginya sampai di Samarinda. Perjalanan belum usai karena masih harus naik travel lagi selama 2-3 jam menuju bandara internasional Sepinggan di Balikpapan. Barulah perjalanan berakhir setelah terbang lebih kurang 1,5 jam dari Balikpapan menuju bandara Hasanuddin Makassar. Kerinduannya adalah agar gereja dapat menghubungkan program-program dan strategi-strategi dari pengembangan anak di gereja dengan konteks yang lebih luas dari misi gereja, yaitu pengembangan anak secara holistik atau menyeluruh.
- Ev. Dewi Margaretha Padakari, S.Th. melayani sebagai Assistant Gembala di GKII Jemaat Bumi Bekasi Baru, Bekasi-Jawa Barat. Tangan kanan dari Pdt. Nuryati, S.PAK (alumnus STTJ tahun 1989) merasa terpanggil untuk melayani secara khusus dalam bidang pelayanan anak. Selain melayani sebagai Assistant Gembala, gadis single ini juga terlibat dalam pelayanan anak lebih luas untuk GKII Daerah Jabodetabek II. Suasana kelas bertambah semarak dengan keceriaan dan tawanya. “Saya ada di sini adalah karena anugerah dan kehendak Tuhan. Motto saya adalah focus kepada anak!” Setelah mengucapkan kalimat tersebut beliau bertepuk tangan sendiri dengan penuh semangat dan tentu saja ini menular kepada teman-teman lainnya untuk ikut bertepuk tangan. Dewi yang biasa dipanggil oleh teman-temannya Ita ini berharap agar semua pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang diperolehnya dapat diintegrasikan dengan mewujudkannya menjadi pembimbing, pendamping dan pembela anak yang kompeten dan berbelas kasihan.
- Dicky Tumbel satu-satunya mahasiswa yang berlatar belakang non teologi. Kesarjanaannya diperoleh dalam pendidikan ekonomi. Namun Tuhan menggunakan ilmu yang diperolehnya tersebut untuk melayani Dia melalui Lembaga Pelayanan Anak yaitu Compassion East Indonesia. Itu sebabnya beliau mau melengkapi diri di tengah kesibukannya sebagai Project Fasilitator dengan menambah pengetahuan teologi khususnya mengenai persfektif Alkitab terhadap pelayanan anak holistic. Bapak yang memiliki seorang istri dan 2 orang putri yang berasal dari Manado ini menambah wawasan baru di kelas. Pandangan Teologi dari beberapa temannya di kelas dan pengalaman pribadinya langsung dalam pelayanan anak secara holistic di luar gereja, telah menjadi kombinasi yang unik dan membawa hawa baru bagi dunia pelayanan gereja. Dengan program HCD ini beliau merasa tertolong untuk mengembangkan keterampilan managerial, perencanaan strategis dan tekhnik yang inovatif guna meningkatkan pelayanan anak secara holistic.
Bersambung... (profile dosen dan mata kuliah yang diajarkan)
Ungkapan “small is beautiful” mewarnai kelas angkatan pertama untuk program Master of Arts Pengembangan Anak Holistik (PAH) atau MA Holistic Child Development (HCD) di STT Jaffray Makassar. Modul I dimulai pada tgl 27 September dan berakhir pada tgl 20 Oktober 2010. Suasana kelas sangat hidup karena masing-masing anggota kelasnya mendapat kesempatan untuk berinteraksi baik dengan dosen maupun sesama mahasiswa. Diskusi, tanya-jawab, presentasi pribadi maupun kelompok mewarnai suasana kelas tersebut. Bukan hanya pengetahuan yang dapat diserap atau dibagikan bahkan expresi perasaan pun dapat dituangkan dengan bebas namun terkendali.
Angkatan pertama Program MA HCD ini ada enam orang yang datang dari berbagai daerah dengan latar belakang yang berbeda. Berikut ini profile dari para Mahasiswa tersebut:
- Pdt. Robby Renno Litty, M.Th melayani sebagai Gembala Jemaat di Gereja Kemah Injil Indonesia Jemaat Sunter, Jakarta. Meskipun beliau sudah memiliki gelar S2 namun kerinduannya untuk terus diperlengkapi supaya memiliki pelayanan yang berwawasan kepedulian kepada kehidupan anak secara holistic tidak menyurutkan semangatnya untuk kembali belajar dalam program yang khusus ini. Pengalamannya sebagai Gembala Jemaat selama 16 tahun memberikan sumbangsih besar dalam diskusi-diskusi di kelas sehingga diskusi-diskusi tersebut menjadi hidup. Beliau sendiri mengakui bahwa kebanyakan para pemimpin gereja belum terlibat secara mendalam dalam melayani anak-anak bahkan pelayanan terhadap anak cenderung dinomorduakan. Kerinduannya adalah agar semua para pemimpin gereja memiliki persfektif “Hati Allah” terhadap pelayanan anak.
- Pdt. Martina, S.Th. melayani sebagai Assistant Gembala di Gereja Methodist Indonesia (GMI) Jemaat Kisaran, Sumatera Utara dan secara khusus melayani bidang Pelayanan Anak dan Perempuan. Cuti satu tahun yang diberikan Sinode GMI kepadanya tidak disia-siakan. Beliau menggunakannya untuk melengkapi diri lagi dengan mengikuti Program MA HCD di STT Jaffray, Makassar. Dengan sistim Modul yang ditawarkan untuk program tersebut lebih memudahkan baginya untuk mengatur antara keluarga, pelayanan dan kuliah. Walaupun beliau harus meninggalkan suami dan seorang anak perempuan berusia 4 tahun selama 1 bulan untuk mengikuti kuliah. Keinginan luhurnya adalah untuk lebih dilengkapi agar lebih baik lagi dalam melayani anak-anak sebagai asset gereja dan bangsa yang berharga. Saatnya gereja menanam investasi besar dalam diri anak secara utuh (holistic).
- Ev. Heni Susela, MA adalah pelayan Tuhan yang telah belasan tahun melayani anak-anak di Kalimantan Timur. 10 tahun pertama melayani dalam Komisi Anak dan Remaja GKII Daerah Mahakam Utara dan sekarang memasuki usia 5 tahun pelayanannya sebagai Ketua Biro Pelayanan Anak & Remaja GKII Wilayah Kalimantan Timur. Di samping itu pula penginjil single ini melayani di STT Tenggarong sebagai tenaga pengajar dan membantu bidang administrasi sekolah. “New Insight” yang didapat dalam kelas HCD ditambah dengan pengalaman pelayanan kepada anak-anak telah memperkaya dirinya untuk memiliki visi dan misi secara global terhadap pelayanan anak.
- Ev. Mince Awang, S.Th. melayani sebagai Assistant Gembala di salah satu gereja di daerah Apau Kayan, Kalimantan Timur. Kurangnya perhatian gereja terhadap pelayanan anak dan kecenderungan untuk mengabaikannya serta tidak adanya tenaga professional atau specialist di bidang pelayanan anak dalam daerahnya, telah mendorong gadis muda ini untuk meningkatkan dan mengembangkan pengetahuan, karakter dan keterampilan dirinya dalam program Holistic Child Development di STT Jaffray Makassar. Walaupun jarak tempuh yang cukup jauh dan menggunakan berbagai alat transportasi agar dapat sampai di Makassar tidak menyurutkan langkahnya untuk dilengkapi dalam program khusus tersebut. 3 jam perjalanan dari kampungnya menuju lapangan terbang mini di Apau Kayan harus dilaluinya dengan perahu. Pesawat terbang mini yang sering diplesetkan dengan sebutan “Sampai Mati Atau Cacat” ini harus ditumpanginya sampai di Samarinda. Perjalanan belum usai karena masih harus naik travel lagi selama 2-3 jam menuju bandara internasional Sepinggan di Balikpapan. Barulah perjalanan berakhir setelah terbang lebih kurang 1,5 jam dari Balikpapan menuju bandara Hasanuddin Makassar. Kerinduannya adalah agar gereja dapat menghubungkan program-program dan strategi-strategi dari pengembangan anak di gereja dengan konteks yang lebih luas dari misi gereja, yaitu pengembangan anak secara holistik atau menyeluruh.
- Ev. Dewi Margaretha Padakari, S.Th. melayani sebagai Assistant Gembala di GKII Jemaat Bumi Bekasi Baru, Bekasi-Jawa Barat. Tangan kanan dari Pdt. Nuryati, S.PAK (alumnus STTJ tahun 1989) merasa terpanggil untuk melayani secara khusus dalam bidang pelayanan anak. Selain melayani sebagai Assistant Gembala, gadis single ini juga terlibat dalam pelayanan anak lebih luas untuk GKII Daerah Jabodetabek II. Suasana kelas bertambah semarak dengan keceriaan dan tawanya. “Saya ada di sini adalah karena anugerah dan kehendak Tuhan. Motto saya adalah focus kepada anak!” Setelah mengucapkan kalimat tersebut beliau bertepuk tangan sendiri dengan penuh semangat dan tentu saja ini menular kepada teman-teman lainnya untuk ikut bertepuk tangan. Dewi yang biasa dipanggil oleh teman-temannya Ita ini berharap agar semua pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang diperolehnya dapat diintegrasikan dengan mewujudkannya menjadi pembimbing, pendamping dan pembela anak yang kompeten dan berbelas kasihan.
- Dicky Tumbel satu-satunya mahasiswa yang berlatar belakang non teologi. Kesarjanaannya diperoleh dalam pendidikan ekonomi. Namun Tuhan menggunakan ilmu yang diperolehnya tersebut untuk melayani Dia melalui Lembaga Pelayanan Anak yaitu Compassion East Indonesia. Itu sebabnya beliau mau melengkapi diri di tengah kesibukannya sebagai Project Fasilitator dengan menambah pengetahuan teologi khususnya mengenai persfektif Alkitab terhadap pelayanan anak holistic. Bapak yang memiliki seorang istri dan 2 orang putri yang berasal dari Manado ini menambah wawasan baru di kelas. Pandangan Teologi dari beberapa temannya di kelas dan pengalaman pribadinya langsung dalam pelayanan anak secara holistic di luar gereja, telah menjadi kombinasi yang unik dan membawa hawa baru bagi dunia pelayanan gereja. Dengan program HCD ini beliau merasa tertolong untuk mengembangkan keterampilan managerial, perencanaan strategis dan tekhnik yang inovatif guna meningkatkan pelayanan anak secara holistic.
Bersambung... (profile dosen dan mata kuliah yang diajarkan)
Thursday, November 4, 2010
Tuesday, November 2, 2010
PS STT Jaffray Meraih 3 Perak
PS GITA STT Jaffray meraih 3 perak pada Lomba Paduan Suara Mahasiswa Tingkat Nasional di Palangkaraya-Kalteng, tanggal 17-24 Oktober 2010 yang lalu. Acara tahunan nasional yang diselenggarakan DIKTI Kemendiknas ini baru pertama kali diikuti STTJ. Raihan perak diraih dalam semua kategori baik Musica Sacra, Gospel, dan Lagu Etnik. Puji Tuhan STTJ sudah dapat memetik hasil yang menggembirakan dan dapat memperkenalkan STT Jaffray di tingkat nasional lewat lomba paduan suara ini. Rombongan ini dipimpin oleh Ibu Rohani Siahaan, dan didampingi dosen/pelatih Bpk Tony Molumbot dan Aman A. Surachman (ass.dosen), dengan 33 anggota paduan suara. Terima kasih atas dukungan semua fihak dalam doa dan dana. Tuhan memberkati. Maju terus STT Jaffray.
Sunday, October 31, 2010
Jaffray School of Theology Makassar
Jaffray School of Theology Makassar (Sekolah Tinggi Theologia Jaffray)
In the early days STT Jaffray was known by the name The Makassar Bible School, founded by Dr. Robert Alexander Jaffray (a Canadian) in the year 1932. He was a missionary with the Christian and Missionary Alliance (C&MA), founded by Dr. A. B. Simpson, a Presbyterian pastor who later adopted an enthusiasm for evangelism and holiness.
Earlier Dr. Jaffray had spent 32 years serving in the Guang Xi Province in China. The ministry in China spread to even as far as Indo China (Vietnam). Later his heart was burdened for the ministry in southeast Asia after receiving a vision about the need there. He went to the colonial area called the Dutch Indies (now Indonesia). Dr. Jaffray first stepped ashore in Samarinda, East Kalimantan on February 10, 1928, and from then on he began making plans to open the ministry in Indonesia.
In 1932, assisted by former students from China, the mission was named China Foreign Mission Union (CFMU) and Rev. Dr. Leland Wang was the leader of the opening of the Makassar Bible School. Its purpose was to help prepare national workers to develop the ministry in Indonesia, mostly in Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, and Timor. Dr. Jaffray also founded the publishing house, Kalam Hidup (Living Water) in Makassar, which was involved in publications, a magazine, and a radio station (today the main office of Kalam Hidup is in Bandung).
In 1959, Makassar Bible School changed its name to Jaffray Bible College to honor its founder. The level of acceptance for students also changed, accepting only students out of high school rather than students out of middle school as before. And in 1975, STTJ was listed in the Kopertis IX Sulawesi (Government Control Body for Higher Education) and received only those students who finished their high school diploma.
Today STTJ is situated in the heart of the city of Makassar on a property that is 10.141 square meters, and has 460 students (Bachelor level and Master level) from various church denominations in Indonesia, particularly East Indonesia. The school is under the direction of the Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) a member of PGI (Ecumenical Churches Fellowship) and PGLII (Evangelical Churches Fellowship), however, the school has an interdenominational character. Today there are around 40 church denominations represented among the student body.
Besides the GKII, STT Jaffray is also supported by means of societies or donations from churches under the auspices of former CFMU members, specifically Gereja Kebangunan Kalam Allah, Sinode Gereja Kristus Yesus (GKY), Gereja Hok Im Tong Bandung, and other societies as well.
STT Jaffray has been accredited by the National Accreditation Board of the Kementrian Pendidikan Nasional of Indonesia (Ministry of National Education) and is under the auspices of Kopertis IX Sulawesi and also the Ministry of Religion in Indonesia. STT Jaffray has also received permission for the organization of its postgraduate program and is accredited by Ministry of Religion in Indonesia.
The mission of STT Jaffray is a worldwide mission, that is, to reach the world for Christ. Today alumni from STT Jaffray are scattered in various places in Indonesia and Malaysia. We also emphasize missional ministry to areas in east Indonesia which have received less attention.
An emphasis in our education is how we can shape leaders and ministers, who are upright, spiritual, rooted in the Word of God, and have a heart for missions to those who have yet to hear the gospel with a holistic ministry to the society.
In the early days STT Jaffray was known by the name The Makassar Bible School, founded by Dr. Robert Alexander Jaffray (a Canadian) in the year 1932. He was a missionary with the Christian and Missionary Alliance (C&MA), founded by Dr. A. B. Simpson, a Presbyterian pastor who later adopted an enthusiasm for evangelism and holiness.
Earlier Dr. Jaffray had spent 32 years serving in the Guang Xi Province in China. The ministry in China spread to even as far as Indo China (Vietnam). Later his heart was burdened for the ministry in southeast Asia after receiving a vision about the need there. He went to the colonial area called the Dutch Indies (now Indonesia). Dr. Jaffray first stepped ashore in Samarinda, East Kalimantan on February 10, 1928, and from then on he began making plans to open the ministry in Indonesia.
In 1932, assisted by former students from China, the mission was named China Foreign Mission Union (CFMU) and Rev. Dr. Leland Wang was the leader of the opening of the Makassar Bible School. Its purpose was to help prepare national workers to develop the ministry in Indonesia, mostly in Kalimantan, Sulawesi, Papua, Bali, and Timor. Dr. Jaffray also founded the publishing house, Kalam Hidup (Living Water) in Makassar, which was involved in publications, a magazine, and a radio station (today the main office of Kalam Hidup is in Bandung).
In 1959, Makassar Bible School changed its name to Jaffray Bible College to honor its founder. The level of acceptance for students also changed, accepting only students out of high school rather than students out of middle school as before. And in 1975, STTJ was listed in the Kopertis IX Sulawesi (Government Control Body for Higher Education) and received only those students who finished their high school diploma.
Today STTJ is situated in the heart of the city of Makassar on a property that is 10.141 square meters, and has 460 students (Bachelor level and Master level) from various church denominations in Indonesia, particularly East Indonesia. The school is under the direction of the Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) a member of PGI (Ecumenical Churches Fellowship) and PGLII (Evangelical Churches Fellowship), however, the school has an interdenominational character. Today there are around 40 church denominations represented among the student body.
Besides the GKII, STT Jaffray is also supported by means of societies or donations from churches under the auspices of former CFMU members, specifically Gereja Kebangunan Kalam Allah, Sinode Gereja Kristus Yesus (GKY), Gereja Hok Im Tong Bandung, and other societies as well.
STT Jaffray has been accredited by the National Accreditation Board of the Kementrian Pendidikan Nasional of Indonesia (Ministry of National Education) and is under the auspices of Kopertis IX Sulawesi and also the Ministry of Religion in Indonesia. STT Jaffray has also received permission for the organization of its postgraduate program and is accredited by Ministry of Religion in Indonesia.
The mission of STT Jaffray is a worldwide mission, that is, to reach the world for Christ. Today alumni from STT Jaffray are scattered in various places in Indonesia and Malaysia. We also emphasize missional ministry to areas in east Indonesia which have received less attention.
An emphasis in our education is how we can shape leaders and ministers, who are upright, spiritual, rooted in the Word of God, and have a heart for missions to those who have yet to hear the gospel with a holistic ministry to the society.
Subscribe to:
Posts (Atom)

